Teladani Suka Duka Anggota Polri, Kapolres Bangkalan Nobar 'Sang Prawira' Bersama Pelajar

(Teladani Suka Duka Anggota Polri, Kapolres Bangkalan Nobar 'Sang Prawira' Bersama Pelajar)
Polres Bangkalan, Suka duka menjadi seorang abdi negara terutama menjadi bagian dari keluarga besar Kepolisian Negara Republik Indonesia tergambar secara gamblang dan jelas lewat film 'Sang Prawira'. Film besutan sutradara Ponti Gea dan penulis naskah Onet Adithia Rizlan mampu membuka mata khalayak umum tentang beratnya pilihan menjadi seorang anggpta Polri.

Film ini menceritakan tentang kisah hubungan antara orang tua dengan anaknya, perjuangan cita-cita, pengabdian pada negara dan soal cinta. Pada film ini diceritakan harapan dan keinginan ayah Horas (Ipda Dimas Adit S) yang ingin anaknya menjadi orang kaya. Horas merupakan seorang pemuda yang lahir di sebuah kampung di tepian Danau Toba. Keadaan keluarga yang tergolong kekurangan membuat ayahnya mengharapkan Horas menjadi pengusaha, agar bisa mengangkat status ekonomi keluarganya. Sehingga tidak perlu lagi bersusah-susah dalam memenuhi kebutuhan hidup.

Sayangnya, Horas berpikir lain, dia ingin menjadi seorang polisi. Menjadi polisi yang menjaga keamanan masyarakat dan menjadi salah satu upaya mengabdi pada negara. Pengabdian kepada negara baginya lebih penting daripada urusan pribadi, mungkin itu yang terpikirkan oleh Horas.

Oleh karena itu, pada hari ini Kamis (05/12/2019) Kapolres Bangkalan AKBP Rama Samtama Putra, S.I.K., M.Si., M.H. didampingi Ketua Bhayangkari Cabang Bangkalan Ny. dr. Nova Rama Putra, Wakapolres, PJU, Kapolsek Jajaran, Bhayangkari dan Pelajar SMA di Bangkalan pun menggelar nonton bareng 'Sang Prawira' di Galaxy Mall, Surabaya. 

Ditemui selepas nobar bersama pelajar, AKBP Rama pun menjelaskan jika film ini merupakan pilihan hidup seorang anak manusia yang memilih jalan hidupnya untuk mengabdikan pada bangsa dan negara. "Dalam perjalanan film ini, kita melihat dan menyaksikan bahwa menjadi seorang polisi itu harus ditempa dalam waktu yang tidak sebentar. Menajdi taruna butuh waktu 4 tahun. Setelah meraih itu semua, dan menjalani profesi menjadi seorang polisi, Horas harus kehilangan orang-orang terdekatnya. Mulai dari ibunda tercinta, kekasih, dan sahabat. Semua adalah resiko dan proses dalam menjaga integritas dan profesionalitas serta totalitas seorang polisi yang telah mengutamakan kepentingan bangsa dan negara diatas segalanya,"ujar AKBP Rama. 

"Film ini layak untuk ditonton oleh semua kalangan. Agar, anak-anak jaman sekarang tahu bahwa masuk Polisi itu gratis. Dan pilihan hidup seorang anggota polisi itu tidaklah mudah. Mendampingi seorang anggota polisi pun punya resiko tinggi dan itu semua adalah pilihan yang sulit,"tambah ketua Bhayangkari Cabang Bangkalan Ny. dr. Nova Rama kepada awak media yang ikut meliput kegiatan ini. (Duwi)

Komentar